Disclaimer: PS Company
Fandom [s]: the GazettE
Pairing [s]: AoixOC, and maybe some 'BL'
Warning: OOC (of course), typo [s], a little bit Boys Love. If you don't want that, please click 'back' button 'cause I don't want hear/see any FLAMES~ n_nv
Enjoy!
.
.
Previously, on Smile Aoi-kun!:
"Aku izinin nanti."
"..." diam sebentar.
"EEHHH?" teriak Sakura tidak percaya.
"Sudahlah! Cepat isi datanya."
"I, iya."
Dan akhirnya di ruangan itu hanya ada Sakura dan Aoi yang duduk berhadapan dan masing-masing sibuk dengan pikiran dan pekerjaan mereka sendiri-sendiri. Membuat seisi ruangan begitu hening dan sunyi, menciptakan kecanggungan di antara mereka.
==x==
Sakura sibuk dengan kertas-kertas data. Sedangkan Aoi sibuk dengan perhatianya kepada si gadis.
"Senpai, bisa hentikan memperhatikanku?" tanya Sakura risih sambil melemparkan pandangan bosan.
"Aku tidak memeprhatikanmu chibi. Kamu saja yang ke Ge'er-an." Balas Aoi, tidak mau mengakui bahwa sejak tadi pandanganya selalu terarah ke si pemilik mata dwiwarna itu.
"Huh! Ya sudahlah. Aku juga hampir selesai." Ucap Sakura. Aoi terdiam sejenak namun akhirnya ia memberanikan diri menanyakan hal yang mungkin tabu bagi Sakura untuk dijawab.
"Hei. Aku penasaran kenapa matamu begitu. Sejak lahir?" Tanya Aoi sambil masih memperhatikan mata Sakura.
"Ng.. Yah.. Maaf, aku tidak ingin bicara soal itu." Jawab Sakura dengan nada enggan.
Tapi sepertinya rasa penasaran Aoi melebihi apapun. Dan bukan Aoi namanya kalau tidak mendapatkan keinginannya. Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Sakura yang masih duduk diam. Ia langsung memeluk kencang gadis itu sambil mengelitiki-nya.
"AA! H, hentikan! Ahahahhaha! Hentikan senpai!" Pinta Sakura sambil tertawa-tawa.
"Huuuuh, tidak akan kuhentikan sampai kamu cerita!" balas Aoi keras kepala sambil menahan tawa tentunya.
"Ahahaha! K, kau ini keras kepala ya! Kyahahah cukupp! Geli banget nih!"
"CERITAAAA." Pinta Aoi dengan nada seperti anak kecil minta dibelikan permen *disundul gitar*.
"I, iya-iya! Lepasiiin!" Balas Sakura menyerah karena sudah lelah tertawa. Aoi memang menghentikan kelitikan mautnya, tapi ia tida melepaskan pelukannya.
"H, hei! Aku sudah mau cerita nih! Ayo lepaskan pelukanmu itu!" protes Sakura dengan wajah memerah yang tidak disadari oleh Aoi.
"Aku tidak mau lepas sampai kamu selesai bercerita." Balas Aoi masih keras kepala. Sakura hanya menghela nafas sebal.
"Fine, Fine =3= Ng.. bagaimana ya? Mulai darimana enaknya?" tanya Sakura dan dijawab Aoi dengan death glare.
"I, iya-iya darimana aja oke. Intinya mataku ini tentu saja hasil Implan. Waktu kebakaran tujuh tahun yang lalu yang menewaskan Ayah dan Ibuku aku jatuh dari tangga dan tertimpa balok kayu. Kepalaku serasa pecah dan saat itu juga aku tidak sadar.
Kurasa sekitar 8 hari kemudian aku sadar di sebuah rumah sakit. Mereka bilang 'ini masih di Sicily'. Lalu hari berikutnya, datanglah seorang anak perempuan yang seumuran denganku sepertinya. Rambutnya light blonde. Matanya Gold. Wajahnya mirip denganku. Sangat mirip! Kami seperti anak kembar. Dia berkata bahwa namanya Lily Adelaine.
Dan ternyata ia memang kakak kembarku yang lahir lima menit dariku. Tapi dalam delapan tahun hidupku aku belum pernah seseorang menyebutkan aku kembaran. Lily bilang keluarga Adelaine memang selalu menutupi soal berita anak kembar. Karena bagi keluarga kami memliki anak kembar perempuan adalah tabu dan untuk menghidari kesialan salah satu harus di pisah.
Aku baru tahu kalau ternyata kanker menggerogoti tubuhnya. Sebelum ia meninggal 9 hari setelah pertemuanku dengannya, ia membuatku menerima implant matanya. Ia berkata pada dokter untuk memberikan matanya yang sehat padaku.." nada bicara Sakura semakin melirih. Baik Aoi maupun Sakura mengerti bahwa ini akan segera berakhir dengan sedih.
"Kau tahu?.. Aku sangat shock saat keesokan harinya saat semua dokter dan suster mengatakan dia telah pergi. Dengan berat hati aku menjalani operasi ini demi dia agar dia sedikit tersenyum di alam sana..." Ucapnya lagi mengakhiri cerita sedihnya diikuti dengan senyum penuh rasa bersalah.
Tangan Sakura menyentuh pelan kelopak mata kirinya yang tertutup merasakan bola mata kakaknya ada di sana, masih di sana.. Menceritakan semua kenangan pahit itu membuat butir beningngnya turun, mengalir pelan. Aoi merasakan lenganya basah akan sesuatu. Dan dengan segera ia sadar bahwa Sakura menangis. Ia mengeratkan pelukanya dan diterima dengan baik oleh Sakura. Mereka tetap dalam posisi itu beberapa menit sampai-
.
.
'KLEK!'
.
.
"Awo? Sudah belum mengisi datanya? Reita sudah menunggu lho." Ucap Uruha sambil membuka pintu. Langsung saja Aoi dan Sakura melepas pelukan mereka dan bersikap seolah tidak terjadi apapun.
"Eh? Aku mengganggu ya? Maaf~ Aku tidak melihat apa-apa~ Tidak melihat =3=" kata Uruha sok innocent sambil menutupi matanya dengan tangan menunjukkan dia pura-pura tidak melihat *Ish, uru bilang aja jealous =3=*disambir gitar lagi*.
"D, diam bebek. Kami tidak melakukan apapun. Oi chibi, sudah selesai belum?" Tanya Aoi mengalihkan pembicaraan.
"S, sudah- AHH! JANGAN PANGGIL CHIBI!" Jawab Sakura malu ia menyerahkan berkasnya ke tangan Uruha yang masih pura-pura tidak lihat.
"Aduh, Uruha-senpai bisa tolong hentikan?" pinta Sakura malu. Uruha terkekeh sambil menerima berkas itu puas berhasil menggoda adik kelas-nya.
"Ok, terima kasih Sakura-chan. Ayo pergi Awo-kun~ Jangan lupa ajak Sakuchan juga ^^" Ucap Uruha senang.
"Eh? Ajak? Kemana? Ah, iya! Kenapa tadi aku juga di suruh bawa tas?" tanya Sakura beruntun menuntut penjelasan sesingkat-singkatnya, sejelas-jelasnya se-*BUGH*
"C, cerewet sekali. Singkatnya, kau ikut dengan kami chibi. Aku akan memasukanmu ke OSIS. Jadi bolos pun tidak bakal dimarahi." Jawab Aoi enteng.
"N, NANIII?"
"Nah~ Ayo pergi! Semua sudah menunggu lho~" ajak Uruha makin senang.
.
.
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-Di suatu padang rumput jauh dari sekolah-0-0-0-0-0-0-0-0-
.
.
Aoi, Uruha, Reita dan Ruki ternyata mengajak Sakura pergi ke sebuah padang rumput yang cukup jauh di sekolah. Tujuannya, tentu saja membolos pelajaran. Anak baik mohon jangan ditiru, anak nakal jangan coba-coba. Dengan hebatnya juga, Sakura mengajukan Kai -teman pertamanya- untuk ikut dengan alasan 'urusan OSIS'.
"Beh, ternyata begini ya kerjanya OSIS ==" protes Kai saat ia tiduran di atas hamparan karpet hijau bernama rumput.
"E, enak saja. Kita kadang-kadang saja kok!" Balas Ruki tidak terima.
"Ahaha, sudahlah! Hei Kaichuw, kamu mau ngga masuk OSIS?" tawar Uruha yang membuat Ruki dan Reita sukses membulatkan matanya.
"E, eh? Jangan panggil begitu ah.. Tapi apa tidak apa-apa aku masuk OSIS?" Tanya balik Kai sambil melirik Aoi yang sibuk memainkan handphone-nya.
"Ndak mau~ Lucu tahu~ *towel pipi Kai* Yah, Leader sendiri yang bilang tidak masalah ^^" Jawab Uruha.
"U, uww! Ngga mau!" seru Kai ngambek.
"Iya iya, ngalah deh.." balas Uruha mengalah.
"Bagaimana dengan anak Alice Nine?" tanya Reita sambil memeluk pinggang Ruki.
"Aku sudah email yang lain. Katanya setuju kok~ dengan senang hati malah." Jawab Aoi sambil bersmirk ria menandakan ada maksud tersembunyi. Reita menghela nafas.
"B, bukan dengan senang hati tapi memang tidak bisa melawan Aoi." Komentar Ruki sambil asik bermain dengan boneka panda yang baru saja diberikan Reita.
"Nah, bagaimana Kai-kun? Mau kan?" Tanya Uruha masih dengan senyumnya.
"Oke. Mohon bantuannya ^^a" jawab Kai malu-malu.
"Hore! Kamu masuk OSIS sama aku! uV" seru Sakura senang diraihnya tangan Kai lalu mereka menari kecil seperti anak-anak.
"Hentikan, childish banget ==" protes Aoi.
"Ahahaha maaf senpai~ Jangan jealous dong ^^v" Balas Kai super innocent yang dibalas dengan tawa tertahan dari Ruki, Reita dan Uruha.
'blush'
"A, APA SIH?" sergah Sakura dan Aoi bersamaan.
"Pfftt! KUHAHAAHAHAHAH!" Tawa Ruki dan Reita membahana.
"Wah~ Aku udah ada penerusnya nih! X'D" komentar Uruha.
"K, Kai-kun ih…"
"Hahaha maaf Sakura aku hanya bercanda kok!" ucap Kai sambil mengelus pelan kepala Sakura yang lebih rendah darinya.
"Ahaha! Hentikan Yutaka-san! Kau benar-benar akan membuat Aoi ngamuk lho!" goda Reita.
"AAAAA KALIAN!" wah, Aoi benar-benar mengamuk dan mengejar Reita.
Acara kejar-kejaran pun dimulai. Ruki memandang malas kedua mahluk itu sambil sesekali menyemangati Reita agar bisa lepas dari cengkraman maut (?) sang Leader. Sakura ikut-ikutan tertawa saat Aoi atau Reita terjatuh dan akhirnya jatuh bersama. Hari ini memang hari yang paling bahagia bagi gadis itu. hari ini ia tidak hanya mendapatkan satu orang teman. Namun ia juga mendapatkan kebahagiaanya. Untuk pertama kalinya ia merasa ia masih boleh hidup di dunia setelah mengambil nyawa orang tua dan kakak kembarnya.
"Sakura. Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?" tanya Uruha saat melihat wajah Sakura berubah sedih.
"A, ah tidak. Aku baru ingat tentang sesuatu." Jawab Sakura sekenanya.
"Kalau sesuatu membuatmu sedih jangan dipikirkan ^^" nasihat Uruha.
"Benar apa kata Uru-senpai. Meski masa lalu itu menyakitkan meski tidak boleh dilupakan kita juga tetap harus berjalan tegap menuju masa depan ^^" Timpal Kai.
Sakura memandang lekat keduanya. Ia benar-benar beruntung memiliki mereka. Sejenak ia mengalihkan pandangannya ke dua orang yang duduk kelelahan di rumput. Yup. Ia beruntung.
"Hehehe.. Iya. Kalian benar." Ucap Sakura dengan pandangan melembut yang diarahkan ke sosok Aoi.
"Sakura. Apa kau menyukai Aoi-kun?" Tanya Uruha to the point.
"A, apa maksud senpai?" tanya Sakura tergagap.
"Hahaha jawab saja Sakura! Sepertinya ketua OSIS memperhatikanmu lho." goda Kai.
"K, Kai kenapa ikut-ikut sih?"
"Aku kan penerusnya Uru-senpai XD" ucap Kai sambil ber-hi'five ria dengan Uruha membuat gadis itu sweatdrop hebat.
"U, ukh.. Mungkin…" Jawab Sakura lirih.
"KAMI DUKUNG!" Seru Kai dan Uruha bersamaan.
"KAMI JUGA!" seru Reita dan Ruki yang tiba-tiba sudah duduk bersimpuh di belakang Sakura sukses besar membuat gadis dwiwarna itu jantungan.
"GYAAA! B, bagaimana kalau nanti terdengar orangnya!" peringat Sakura panik, masih belum ingin perasaanya diketahui oleh Aoi.
"Tenang, Aoi tiduran di bawah pohon kok." Kata Ruki sambil menunjuk Aoi yang tepar.
"U, uah! Langsung tepar si mujaer." Komentar Reita.
"Lho, baru tahu?" tanya Ruki.
"Sudah, sudah! Ayo kita pulang. Kita sudah di sini selama hampir 2 jam tahu. Sekarang sudah mau sore!" Kata Sakura sambil melihat jam tangan hitam yang melingkar manis di tangan kanannya.
"Ya terus kenapa kalau sudah sore?" tanya Uruha.
"Senpai, Sakura'kan perempuan ==" jawab Kai sweatdrop.
"Kan ada Aoi yang nanti mengantar =3=" balas Uruha sewot.
"Ih, jangan sewot dong ==;" ujar Kai
"Udah ah, ribut melulu! Kai benar. Aku harus pulang. Aku harus menyiapkan makan malam!" potong Sakura.
"Oh iya kau tinggal sendiri ya."
"GYYA! AOI-SENPAI!" teriak Sakura kaget mendapati Aoi sedang berjongkok di sebelahnya. Bagai mahluk halus, tiba-tiba muncul *dibejeg Awo FC*.
"Apa sih chibi ini == gitu aja kaget. Lebe ih." Protes Aoi tidak terima dianggap Jin.
"Huhuhu.. Au ah!" balas Sakura menenteng tas-nya pergi.
"Mau kemana non?" tanya Aoi.
"Mau pulang!"
"Naek?"
"..." Sakura baru ingat. Dia kesini tadi nebeng Kai.
" N, nebeng Kai lagi. Ayoooo Kaii! Belain aku dong TTATT" pinta Sakura. Kai hanya terkekeh sambil mengedipkan mata ke Aoi dibalas dengan blush tipis bonus death glare.
"huh, bisanya merepotkan. Ayo pulang aku antar." Ucap Aoi malas. Padahal aslinya senang tuh.
"E, eh ya, yasudahlah."
Uruha, Ruki, Reita dan Kai akhirnya ikut pulang. Memang tidak asyik kalau tidak ada sang Leader. Mereka berencana suatu saat nanti mereka akan mengajak anak-anak Alice Nine kemari juga. Dengan perasaan senang, malu, campur aduk, Sakura yang menerima tawaran Aoi akhirnya berboncengan dengan pemuda itu. sedangkann Ruki nebeng dengan Reita. Uruha dan Kai menaiki motor mereka masing-masing dan setiap motor mulai membawa mereka pulang.
.
.
.
.
TBC~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar