Selasa, 13 Agustus 2013

Smile, Aoi-kun! ::the GazettE Fanfic:: [Chapter 5]

Disclaimer: PS Company, Under Records
Fandom [s]: the GazettE
Pairing [s]: AoixOC, and maybe some 'BL'
Warning: OOC (of course), typo [s], a little bit Boys Love. If you don't want that, please click 'back' button 'cause I don't want hear/see any FLAMES~ n_nv

Previously on "Smile, Aoi-kun!"

"Pakai ini." ucap Sakura sambil menyerahkan sepasang sarung tangan cokelat. Aoi menerimanya dengan malu-malu dan memakainya.

"Ayo pulang, sudah malam." Ajak Aoi pelan.

Dan malam itu keduanya pulang ke apato mereka masing-masing. Malam itu juga Sakura terserang flu yang membuatnya harus absen keesokan paginya.



Aoi's Apato

.

.

.

"APA? Aku tidak mau Kaa-san! Aku sudah bilang 'kan beberapa bulan yang lalu?" tampak Aoi yang sedang kesal berjalan mondar-mandir di kamarnya.

"Kaa-san mengerti kau tidak mau, Kaa-san juga ingin kau bahagia tapi-"

"Kaa-san ingin aku bahagia 'kan?... Kaa-san, aku sudah menemukan orang yang tepat di sini.. Kumohon! Tunggulah beberapa tahun lagi! Beberapa tahun lagi ia akan menjadi mahasiswi!" seru Aoi memotong pembicaraan.

"Yuu-kun... Maaf, tapi ini keputusan Tou-san…...Kaa-san sudah tidak bisa apa-apa lagi.. minimal besok kau harus kembali ke sini….. Bicaralah pada Tou-san.." Ucap sang Ibu.

"Apa ini keputusan final?" tanya Aoi lirih.

"..." Ibunya terdiam untuk beberapa saat.

"Iya. ini keputusan final. Kau harus kembali ke New York besok. Kaa-san ingin kau bahagia… hanya itu… Maafkan keegoisan kami.. Tapi tolonglah, agar kau mengerti setidaknya kembalilah ke sini dahulu… Kaa-san sudah memesankan tiket-nya." Jawab perempuan itu.

"Kebahagiaanku hanya aku yang mengerti dan hanya aku yang dapat meraihnya."

"Yuu--"

"Aku akan ke New York besok. Hanya untuk dua hari." Kata Aoi tegas. Ia memutuskan telpon internasional itu.

Aoi merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Ia sangat lelah hari ini. pikirannya terbebani oleh ucapan Ibunya barusan. Ingin sekali ia berteriak kesal, menumpahkan segala amarah, sedih, dan kecewanya. Tapi pada siapa? Pada siapa ia harus mengadu? Ia tidak punya siapapun di sini. Ia terlalu gengsi untuk mengatakan keresahannya pada teman-temannya sendiri.
Aoi memijit pelan kepalanbya. Sungguh ia sangat pusing memikirkannya. Terlintas sebuah nama di kepalanya. Ia menatap langit senja. Hari ini Sakura tidak masuk karena sakit. Ingin sekali ia datang ke kamar gadis itu hanya sekedar untuk tahu bagaimana keadaanya. Tapi Aoi takut jika nanti gadis itu menyadari perasaanya dan malah menghindarinya.

'tok tok tok'

Aoi's POV

Aku tersentak kaget. Sialan, jantungku rasanya sudah melompat keluar rongga dadaku dan berlari-lari di atas karpet kamar. Oke, Lebay. Dengan malas aku berjalan menuju pintu. Terdengar ketukan lagi. Tanpa mengecek siapa yang berada di balik pintu, aku membukanya dengan cukup kasar. Pekikan kaget seorang gadis terdengar. Entah apa yang terjadi di otakku butuh beberapa detik untuk menyadari siapa yang ada di balik pintu.

"K, konbanwa." Sapanya pelan.

"Hn, ada apa kemari?" tanyaku agak ketus.

M, mulut bodooooh kenapa bicara seketus ini sih?

"Etto, sejak pulang sekolah katanya kau tidak keluar dari kamar. Berarti kau belum makan apapun kan?" tanya gadis chibi di depanku ini.

'Kruyuuuukkk.' Kuso! Perutku mendukung pernyataan Sakura.

"Hhh.. Iya sih, baru terasa sekarang." balasku pelan. Sakura tersenyum lembut dan memberikan sesuatu yang ada di tangannya.

"Onigiri, nasi kare, dan jus jeruk. Buatanku. Kau ini ketua OSIS! Jangan sampai sakit." Perintahnya. Aku menatap manik matanya yang berbeda warna. Aku tersenyum kecil dan menerima bungkusan kecil itu.

"Terima kasih Sakura." Ucapku pelan. Ia mengangguk. Terbesit kalimat-kalimat Ibuku tadi.

"Sakura." Panggilku. Gadis itu berbalik dan menatapku seolah bertanya.

"Bisa jangan temui aku lagi?... Aku.. Butuh sendirian." Ucapku tanpa sadar.

"..."

Sungguh! Kusesali perkataanku tadi.

"Apa... Aku mengganggumu?..." tanyanya lirih.

"Tidak, maksudku-"

"Tidak apa-apa kalau begitu. Aku akan menjauh selama yang kau mau." Potongnya. Wajahnya agak menunduk.

"Sakura aku tidak bermaksud begitu! Hei-"

"Tidak apa-apa Aoi-senpai." Potongnya lagi. Kali ini dengan senyuman. Senyuman yang seumur hidup aku bersumpah tidak ingin melihatnya- Senyuman paksa dan miris yang ditujukan untukku…

"Jangan merasa bersalah. Terima kasih untuk waktu yang indah. Aku permisi." Pamitnya terburu-buru.

Gadis itu berlari meninggalkanku. Damn, di saat begini badanku juga menolak untuk bergerak. Aku menyadari satu hal: Aku adalah laki-laki paling bodoh sedunia. Lantai tempat Sakura berpijak tadi terdapat beberapa tetes air.

"DAMN!" umpatku keras. Aku beranjak dari tempatku dan masuk ke apato.

.

.

'BRAK!'

Aku membanting pintu hingga menggetarkan foto yang tergantung di dinding. Kuletakkan bungkusan dari Sakura dengan agak kasar di atas meja. Aku frsutasi…

End of Aoi's POV

==x==

Sakura tetap berlari meski tadi ia menabrak Bou cukup kuat. Sakura sedang tidak ingin diajak bicara. Ia hanya ingin sendiri dulu. Seperti apa kata Aoi tadi..

"BAKAAA!" teriaknya pada dirinya sendiri saat ia sampai di dalam kamarnya.

Gadis itu membenamkan kepalanya di dalam bantal dan berteriak sepuasnya. ia menangis dalam frustasi. Keadaan yang tidak jauh beda dari Aoi. Nafas Sakura memendek. Suhu tubuhnya meninggi. Sakura berjalan dengan lesu untuk mengambil kompres. Ia meletakka kain itu ke dahinya sendiri.

'Are you ready? Go? Stay Go!Are you ready? Go! Go! Whoah
Itoshiki subete ni sasagi
To sing a love song-
'(*)

Sakura meraih Handphone-nya dengan cepat. Ia membaca nama di layarnya.

'Nomor pribadi?' tanya Sakura dalam hati.

"Halo?" Jawab Sakura ragu.

"Sakura." Panggil suara yang sudah sangat lama ia lupakan.

'DEG!'

"..."

"Sakura kau di sana?" tanya suara berat itu lagi.

"P, papa?..."

==TBC==
(*) LM.C-The Love Song



Tidak ada komentar:

Posting Komentar