Rabu, 14 Agustus 2013

Smile, Aoi-kun! ::the GazettE Fanfic:: [Chapter 13 -END-]

Disclaimer: PSC, Under record, CLJ Record
Pairing [s]: AoixOC, and maybe some 'BL'
Warning: OOC (of course), typo [s], a little bit Boys Love. If you don't want that, please click 'back' button 'cause I don't want hear/see any FLAMES~ n_nv


Enjoy!



.

.

.

.

"Papa!" seru seorang anak kecil berumur lima tahun. Orang yang dipanggil Papa hanya tersenyum dan menggendong putranya.

"Ada apa Aoru?" tanya orang itu.

"Kapan mama kembali?"

'Papa' terdiam beberapa saat. Ia menatap langit yang jernih. Mata hazel-nya menerawang jauh. Ia kembali menatap putra tungalnya.

"Segera Ao. Mama pasti akan segera datang." Jawab-nya.

"AOI!" panggil Kai dari kejauhan.

"AH! Kai-ojiisan!" seru Aoru kegirangan. Ia turun dari gendongan Ayahnya dan menyambut datangnya Kai.

"Hei jagoan kecil! Nee, sedang apa kalian di sini?" tanya Kai sambil mengacak rambut Aoru dengan gemas. Aoi tersenyum.

"Menunggu seseorang." Jawab Aoi lembut. Kai terdiam.

"Kau masih menunggunya?..."

"Ya. Aku yakin ia pasti akan datang…."

"Aoi, dia sudah-"

"Aku tahu Kai… Aku tahu… Aku yakin ia akan segera kembali. Aku tidak tahu kenapa tapi aku bisa merasakannya. Merasakannya mendekat kemari.." Aoi kembali menatap langit.

.

.

.

.

.

"Hei." Panggil sebuah suara

"Kalian berbicara seolah aku sudah mati." Lanjut suara itu.

"MAMA!" Aoru berteriak girang dan bergelayut manja pada wanita itu. Wanita berambut pendek berwarna cokelat. Aoi tersenyum lembut, begitu juga dengan Kai.

"Kau masih ingat dengan Mama rupanya." Wanita itu mengacak pelan rambut Aoru.

"Hentikaaann! Kai-ojiisan tadi juga mengacak rambut Aoru!" protesnya.

"Ahaha, maaf!" tawa wanita itu meledak.

Tawa hangat yang membangkitkan aura bahagia di sekitarnya. Wanita itu berumur dua puluh lima tahun. Ia baru saja kembali dari tiga tahun studinya di Inggris. Aoi mendekati wanita itu. Mengecup dahinya penuh kasih sayang dan membawa Aoru dalam gendongannya.
Bunga berwarna soft pink ini bertebaran ke penjuru Jepang menandakan musim gugur telah tiba. Sebuah keluarga itu tersenyum penuh kehangatan, membuat Kai juga ikut tersenyum bahagia. Wanita itu memiliki nama yang sama dengan nama bunga yang tengah berguguran.

"Welcome back, Sakura…"

~Owari~

.

.

.

.

OMAKE !

.

.

.

.

'pip.. pip..'

.

.

"Dokter! Ini keajaiban! Jantungnya kembali berdetak!" teriak sang suster. Aoi segera masuk ke dalam ruangan itu.

"Denyut nadinya sudah normal. Selamat Shiroyama-san, dia selamat." Ucap sang dokter.

"Tak kusangka golongan darahmu sama dengannya." Komentar Kai sambil menepuk bahu Aoi yang lemas.

"Kau menyelamatkannya." Timpal Reita. Aoi tersenyum penuh kelegaan.

Ia berjalan menuju kasur tempat Sakura terbaring lemah. Ia menggenggam erat jemari gadis itu, menunjukkan seberapa besar kasih sayanganya pada gadis itu.

"Kurasa ia akan sadar besok." Ungkap sang dokter.

.

.

.

.

Tetapi selama tiga bulan lamanya ia tidak bangun dari tidur panjanganya. Seluruh keadaan tubuhnya dalam kondisi stabil layaknya manusia normal. Tetapi ia tidak membuka matanya. Selama gadis itu tidak membuka matanya, selama itulah Aoi tidak beranjak dari tempatnya.

"Aoi, kau bolos LAGI." Ucap Uruha di seberang sana.

"Ahaha, apa boleh buat. Maaf ya Uru, kau jadi kerepotan…"

"Yah, asal Sakura dan kau bahagia aku rela menggantikan tugasmu dan Sakura. Cepat buat gadis itu sadar dan kembalilah. Kau diancam tidak naik kelas."

"Kalau kau tidak naik kelas, kau bisa satu kelas dengan Sakura lho!~" timpal Nao.

"Ish! Nao! Jangan mengatakan hal seperti itu! nanti dia tida pulang-pulang!" Seru Uruha.

Tampaknya di Jepang sana ada pertengkaran kecil. Aoi hanya menghela nafas dan mendengus geli. Ia menutup telepon dan kembali menatap gadis itu. ia masih tertidur damai. Ia belum membuka matanya.
"Sakura, Kallen sudah ditangkap atas percobaan pembunuhan dan sekarang ia sudah menjalani masa-masa bahagianya di sel tahanan." Canda Aoi.

"Ayah menerima keputusanku untuk tetap bersamamu. Kaa-san dan Kazi juga membantuku. Entah bagaimana kejadiannya, keluargaku kembali seperti dulu lagi. Tou-san lebih memperhatikan kaa-san dan Kazi. Mereka sekarang bahagia. Semua berkat kau Sakura." Ia bercerita seolah Sakura masih ada di sisinya, mendengarkan tiap kalimatnya.
Perlahan gadis itu membuka matanya. Tetapi Aoi tidak menyadarinya karena ia menunduk ke bawah. Aoi masih terus bertcerita.

"Aku… Ingin berterima kasih kepadamu atas semua keajaiban yang kau berikan," ucap Aoi.

"Dan.. Aku berterima kasih atas keajaiban yang juga kau berikan padaku Aoi." Ujar Sakura. Gadis itu telah membuka matanya, bangun dari tidurnya. Aoi memeluknya dengan erat.

"Marry me." Bisiknya.

.

.

.

.

Real Owari~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar