Rabu, 14 Agustus 2013

Smile, Aoi-kun! ::the GazettE Fanfic:: [Chapter 12]

Disclaimer: PSC, Under record, CLJ Record
Pairing [s]: AoixOC, and maybe some 'BL'
Warning: OOC (of course), typo [s], a little bit Boys Love. If you don't want that, please click 'back' button 'cause I don't want hear/see any FLAMES~ n_nv




Enjoy!



Previously on "Smile, Aoi-kun!"

Sakura tertawa kecil saat berhasil menggoda Saga. Tepat ketika si penjual akan memberikan pesanan mereka, Kallen datang menerjang dengan perlahan.

'Untuk hari ini dan selamanya, Adeleine.'

'JLEB! CRASH!'

"…!"

==x==

"Ngh…." Sakura mengerang kecil saat bias cahaya menerpa matanya. Ia bangkit dan melenguh lebih keras. Ulu hatinya terasa begitu sakit .

"Jangan kau paksakan berdiri." Ucap sebuah suara dan Sakura sangat kenal suara itu.

"K, Kai-nii?" panggil Sakura pelan.

"Maaf…" bisik Kai. Ia tampak sangat frustasi dan sedih. Ia menggenggam erat tangan adiknya.

"Apa yang terjadi?" tanya Sakura. Kai semakin mengeratkan genggamannya. Ia mencium tangan Sakura penuh kasih sayag.

"K, kai-nii?..."

"Maafkan aku Sakura... Aku gagal melindungimu..." bisik Kai lagi kali ini ia meneteskan air matanya. Air mata pertama yang dilihat Sakura.

"H, hei! Ada apa sih?.. Kenapa Kai-nii minta maaf?..." Kali ini Sakura sangat panik. Tidak biasanya Kai seperti ini, terlihat begitu lemah dan depresi. Kai tetap diam.

"Kau ditikam seseorang." Ujar Reita yang tiba-tiba datang.

"Huh? Ditikam? Siapa?"

"Kami belum menemukan siapa pelakunya. Andaikan kau sadar kami pasti bisa menanyaimu sedikit. Tapi kau tidak juga sadar selama dua hari."

"Dua hari..?..." Sakura tampak berpikir.

"YA TUHAN! DUA HARI? Sekarang hari apa?" Sakura panik.

"Sabtu Sakura…. Too late…." Jawab Saga.

==x==

Aoi berdiri di depan cermin melihat pantulan dirinya dalam balutan tuxedo hitam. Ia terlihat sangat tampan tanpa piercing di bibir dan telinganya. Rambutnya disisir kebelakang. Ia menghela nafas. Kazi yang berada di belakanganya sangat pas memakai gaun soft pink. Namun matanya menyiratkan kekhawatiran terhadap kakaknya.

"Nii-chan…. Jangan lakukan ini… Aku tidak ingin melihat Nii-chan tidak bahagia…" ucap Kazi lirih. Aoi berbalik dan menatap dalam-dalam mata hazel adiknya.

"Maaf ya Kazi. Mungkin aku tidak akan bahagia. Tetapi aku akan lebih menderita bila harus melihatmu dan Sakura disakiti… Aku.. sama sekali tidak sanggup melihat Sakura disakiti lebih dari ini…." Balas Aoi.

"..."

"Nii-chan! Mungkin aku tidak mengenal atau tidak tahu seperti apa Sakura-nee! Tapi mendengar ia menyusulmu jauh-jauh dari Jepang tanpa memperdulikan seluruh luka di tubuhnya, aku yakin Sakura-nee adalah orang yang tegar dan hebat! Ia tidak akan menyerah tentang Nii-chan meski ia ditikam orang itu! Karena itu kumohon.. Jangan menyerah soal Sakura-nee juga." Seru Kazi. Gadis itu langsung melesat kabur meninggalkan Aoi yang bungkam.

'Apa benar aku sudah menyerah soal Sakura?...'

"Aoi, sudah saatnya." Ucap Masato. Aoi mengangguk dan mengikuti Ayahnya yang sudah lebih dulu berjalan menuju altar.

==x==

.

.

Jarak antara rumah sakit tempat Sakura dirawat dengan gereja itu tidak jauh. Gadis itu berlari tanpa memperdulikan luka tikamannya yang terus terbuka. Ia tidak peduli bahwa Kallen telah hampir berhasil merengut nyawanya. Sakura menoleh kebelakang medapati Kai dan Tora berlari mengejarnya. Sakura mempercepat larinya. Tidak sia-sia ia ikut ekskul atletik selama tiga tahun.

==x==

.

.

.

Aoi sudah siap di depan altar. Wajahnya tidak menyiratkan kebahagiaan. Pintu gereja terbuka menampakkan sosok Kallen yang cantik jelita. Ia memang sangat cantik selayaknya ia adalah model dalam hidupnya. Tetapi kecantikan itu bagi Aoi hanyalah sebuah sampul untuk menutupi kebusukannya.

Kallen memakai wedding dress dengan warna dominan putih dan dengan aksen dark pink. Polesan make-up pada wajahnya cukup tipis. Hanya diberi foundation, blush-on soft pink danlipstick yang juga berwarna merah muda. Kini sepasang manusia berbeda jenis telah berdiri di altar yang sama.

Sang pendeta melantunkan kalimat-kalimat doa sebagai harapan agar rumah tangga mereka berjalan dengan lancar. Tetapi kini sinar mata Aoi meredup seiring dengan kalimat yang dikatakan sang pendeta. Tibalah saatnya untuk mengucapkan ikrar perkawinan. Sang pendeta mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang akan membuat Aoi terjerat seumur hidup dengan sang laba-laba hitam.

==x==

.

.

.

.

.

'Sabishikute, sabishikute, kimi wo yonda.. (I'm alone, so aloneI called out to you)
Zutto, zutto kimi ni todoku you ni boku wa… utau kara… (So I'll always, always singso I can reach you)'

.

.

.

'HAMPIR SAMPAI!'

Sakura berlari secepat yang ia bisa. Ia sudah sampai di halaman utama gereja. Banyak mobil mewah yang terparkir di sana menunujukkan status sang empunya di dunia sosialita.
'Kali ini aku akan meraihmu kembali.. Aoi..'

.

.

.

'Boku wa… utau kara..( So I can reach you)'

.

.

.

.

Sakura sampai tepat di depan pintu gereja ketika hujan datang. Seluruh tubuh gadis itu basah oleh tetesan air yang mengguyur wilayah itu.

"Aoi Shiroyama, bersediakah kau mengambil Kallen Yunita Alexandria untuk menjadi istrimu dalam suka dan duka?" tanya sang pendeta.

"Saya-"

"AOI!"

'I'll be screaming and fighting
And kissing in the rain..'

.

.

.

Semua mata tertuju kearah seorang gadis Jepang-Italia yang kini terlihat sangat lemah. Ia memegangi ulu hatinya yang terasa sangat perih. Darah merembes keluar dari piyama rumah sakitnya. Gadis itu meneriakan nama sang mempelai pria, membuat mempelai wanitanya terbelalak tidak percaya.

"AOI SHIROYAMA! Aku tidak akan menyerah soal kau! Aku akan mengatakannya di depan pendeta dan semua hadirin yang ada di sini! AKU KEBERATAN ATAS PERNIKAHAN INI KARENA AKU MENCINTAIMU AOI!"

.

.

.

.

'It's two a.m. and I'm cursing your name
I'm so in love that I acted insane'

.

.

.

.

Aoi mengatupkan bibirnya tidak percaya. Di depannya, di hadapan segelintir orang-orang berpengaruh dari seluruh penjuru New York, di hadapan Ayahnya, Ibunya, Adiknya, dan Kallen…. Sakura, gadis itu menyatakan cintanya.

.

.

.

.

"LET ME TELL YOU ONCE AGAIN! I LOVE YOU AOI SHIROYAMA! THE ONE WHO I LOVED IS AOI SHIROYAMA!" teriak Sakura untuk terakhir kalinya.

Ia terduduk lemas karena kelelahan. Nafasnya terengah dan putus-putus. Berlari secepat itu mebuat seluruh tenaganya habis. Darah semakin banyak keluar dari kulitnya. Ia terlihat kesakitan namun pada saat yang sama terlihat begitu bahagia. Wajahnya penuh kelegaan.

"Gadis bodoh..." komentar Aoi tanpa dapat menyembunyikan kegembiraannya.

"Pendeta." Panggil Aoi.

"Aku tidak bersedia menerimanya sebagai istriku. Aku keberatan atas pernikahan ini karena… Satu-satunya gadis yang kucintai telah datang menjemputku, mempertaruhkan hidup dan matinya hanya untukku." Sambung Aoi.

Tanpa menunggu jawaban sang pendeta atau sekedar melihat wajah shock Kallen, Aoi melonggarkan dasinya dan berlari menuju Sakura yang sudah tidak kuat lagi menopang tubuhnya. Perasaan keduanya berkecamuk hebat. Antara sedih, malu, senang, lega, dan perasaan bersalah.

Aoi berlutut di tanah dan memeluk Sakura. Gadis itu tersenyum hangat, menghilangkan segala dingin yang menerpa keduanya. Aoi tersenyum begitu tulus. Sebuah senyuman yang hanya Kazi dan Ibunya yang pernah melihat. Aoi mencium lembut bibir gadis itu. ciuman yang hangat dan penuh cinta.

"I love you too, Sakura." Balas Aoi.

'And that's the way I loved you…'

.

.

.

Gadis itu hanya tersenyum. Nafasnya tersendat dan matanya menyiratkan penderiitaan yang luar biasa. Paramedis segera datang dan menolong gadis itu. Tetapi bayang-bayang sang dewa kematian kian mendekat.

.

.

.

Sakura's POV

.

.

"Ia terlalu banyak kehilangan darah." Aku berani bertaruh dia adalah dokter.

"Apa yang harus kita lakukan? Persediaan darah tidak cukup. Darah anak ini langka."

Yeah… Aku selalu berbeda dari orang lain. Takdir serasa mempermainkanku. Mata ini… Mata yang sangat kujaga. Pemberianmu Nee-chan. Darah ini, darah yang mengalir dalam pembuluh darahku, darah yang hanya ada sedikit di dunia, pemberianmu Mama.

Aku selalu berbeda dari yang lain. Tetapi aku bahagia atas perbedaan itu. karena perbedaanku inilah yang membuatku dapat bertemu dengannya. Lily-nee, Mama, apakah ini sudah waktunya aku bertemu dengan kalian?...

"CHIBI! Bertahanlah!"

Well, di dalam keadaan seperti ini pun ia tetap memanggilku Chibi. Lily-nee, Mama. Dialah orang yang selama ini membuatku menjadi gila. Ia adalah seorang pria dengan cinta yang sangat besar. Ia mencintaiku dengan caranya sendiri.

Lily-nee, Mama. Maaf… Aku belum bisa bertemu dengan kalian sekarang. Aku ingin membuat pria ini bahagia. Aku tidak ingin melihatnya menderita lagi. Aku sangat mencintainya. Kumohon…. Aku masih ingin hidup…

.

.

.

.

.

.

End of Sakura's POV

.

.

.

.

Denyut jantungnya menurun. Berbagai alat penopang hidupnya tertancap dan dihubungkan oleh benda yang paling ia benci: jarum. Pria berambut Raven itu terlihat sangat takut. Ia takut kehilangan gadisnya.

"DOKTER! Tekanan darahnya menurun!"

"Gawat, nadinya terus melemah! Apa yang harus kita lakukan?"

"Bawakan alat pemicu jantung!"

Hiruk pikuk kepanikan terdengar dalam ruangan serba putih itu. suara alat pemicu jantung terdengar berulang-ulang menandakan usaha sang dokter masih berlanjut.

"Dokter, nadinya masih terus melemah!"

"Cih! Sial! Bertahanlah!"

Sang dewa kematian semakin mendekat. Aoi dan yang lain mengatupkan tanganya, berdoa agar sang pencabut nyawa itu pergi.

'Pip Pip'

.

.

.

.

"DOKTER!"

.

.

.

.

'Piip… Piip'

.

.

.

"Tidak… Nadinya semakin melemah…"

.

.

.

.

"piiipp-"

.

.

.

.

.
TBC


Song: Precious (C) ViViD

The Way I Love You (C) Taylor Swift


Tidak ada komentar:

Posting Komentar