Disclaimer: PS Company, Under Records
Fandom [s]: the GazettE
Pairing [s]: AoixOC, and maybe some 'BL'
Warning: OOC (of course), typo [s], a little bit Boys Love. If you don't want that, please click 'back' button 'cause I don't want hear/see any FLAMES~ n_nv
Enjoy!
.
.
.
Previously, on Smile Aoi-kun!:
Sakura sudah lebih dari tiga tahun bekerja di toko dengan konsep gothic lolita ini. Ia dengan senang hati diterima oleh Rame, Shun, Jui, Tero dan Giru karena design Sakura sangat kreatif dan indah. Selain itu juga kepribadian Sakura yang ramah dan easy going membuatnya gampang diterima oleh pelanggan maupun karyawan.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul Sembilan lebih sepuluh menit namun toko masih saja dipenuhi oleh pengunjung. Sakura sempat kewalahan melayani semua pengunjung yang berkonsultasi design pakaian. Penyebabnya hanya satu: bulan ini akan diadakan kompetisi cosplay terbesar sedunia yang pernah ada. Tidak ketinggalan warga Jepang pun ingin ikut merayakan. Meski tidak seramai di Harajuku, jalanan di daerah tempat Sakura bekerja hampir tidak pernah sunyi kecuali saat larut malam. Terpaksa Sakura melayani pembeli sampai pukul sebelas malam.
"Sakura-chan, apa kau akan pulang sekarang?" tanya Rame sambil mengepak tasnya.
"Iya. Ini sudah larut malam. Kalau tidak segera pulang aku tidak bisa bangun pagi besok." Jawab Sakura.
"Besok pagi kau tidak usah datang saja. Tadi aku dan Tero sudah memutuskan untuk merubah jam buka toko untuk bulan cosplay."
"Oh ya?"
"Iya. Bulan cosplay ini kita akan buka setelah kamu pulang sekolah. Jadi kita masih banyak waktu untuk mengerjakan design ^^" ucap Rame semangat.
"Ide yang bagus Rame-tan. Kita juga jadi tidak kewalahan." Sahut Shun sambil merapikan mantel navey blue-nya.
"Terima kasih Shun. Kau sudah ditunggu Giru lho di luar." Balas Rame sambil melirik seorang pria yang duduk tenang di atas bangku kayu yang diketahui bernama Giru.
"AH! Terima kasih Rame. Aku pulang dulu! Jaa~" pamit Shun bergegas keluar toko.
"Kau bagaimana? Dijemput?" tanya Rame.
"Entahlah. Kurasa aku akan jalan kaki atau naik taxi." Jawab Sakura mengangkat bahu.
"Hei, kau ini perempuan tulen! Mana bisa aku membiarkanmu pulang sendiri. Apa kau tidak minta diemput oleh cowok tadi yang mengantarmu?"
"Ah, dia memang menawarkan sih.. Tapi kurasa aku bakal merepotkan jadi tidak usah saja. Tenang begini-begini juga aku anak Aikido ^^v"
"Baiklah, hati-hati Sakura."
"Ok, aku pulang dulu. Pastikan kamu tidak pulang sendiri Rame." Pamit Sakura sambil berlalu.
Baru beberapa meter sejak Sakura meninggalkan pintu berwarna pink itu, ia dipanggil oleh sebuah suara berat.
"Hei Chibi. Mau kemana?" tanya suara itu. Sakura menolehkan kepalanya dan menemukan Aoi sedang duduk tenang di bangku yang tadi Giru duduki.
"A, Aoi-senpai! Kau mengagetkanku. Aku tentu saja mau pulang." Jawab Sakura sambil memasukkan tangannya ke saku mantel.
"Ayo aku antar. Aku 'kan sudah bilang UNTUK MENELPONKU KALAU MAU PULANG." Balas Aoi kesal sambil menekankan beberapa kata terkahir.
"A, aku tidak ingin merepotkanmu." Ucap Sakura cukup menyesal. Aoi menghampiri Sakura dan menepuk pelan kepala gadis itu.
"Ya sudahlah. Ayo kita pulang ini sudah larut malam." Balas Aoi.
"A, ah! Tunggu senpai, ada yang tertinggal di dalam." Seru Sakura saat mendapati benda 'itu' tidak ada dalam tasnya.
"Ya sudah, cepat ambil sana."
Sakura mengangguk pelan. Gadis itu melesat kedalam toko. Dengan perlahan ia membuka pintu kaca itu dan berjalan pelan menuju meja kasir. Ia merogoh-rogoh laci tempat penyimpanan barang karyawan dan mendapati benda itu menyentuh tangan kanannya.
'gotcha!' serunya dalam hati.
Sakura segera berdiri dan beranjak dari tempatnya. Ia keluar dari meja kasir dan memasukan benda itu kedalam tasnya. Sakura melirik jam tangannya. Sekarang sudah pukul setengah dua belas malam. Sudah sangat larut dan ia belum makan apapun sejak sore tadi kecuali cokelat batang pemberian Shun. Baru saja ia akan kembali berjalan, ia mendengar suara yang 'sedikit mengganggu' yang berasal dari ruang staff.
Dengan jantung berdegup tidak karuan dan perasaan was-was, Sakura mencari asal suara itu. ia mengendap-endap bak pencuri professional dan mencoba mengintip ada apa di balik pintu yang sedikit terbuka itu. Mata Sakura membelalak lebar saat mendapati asal suara itu. Rame dengan keadaan terpojok dicium oleh seme kekasihnya sendiri, Jui. Rame berkali-kali meminta untuk memutus ciuman panas mereka. Akhirnya Jui pun setuju dan berkata ia ingin melanjutkannya di rumah Rame nanti.
"Sebaiknya kau keluar Sakuchan. Jangan jadi stalker begitu dong." Ucap Jui malas sambil melirik Sakura yang tertangkap basah mengintip.
"GYYAA! M, maaf Jui-san! A, aku tidak bermaksud untuk mengintip….." sesal Sakura dengan malunya.
"Tidak apa-apa Sakura ^^ sesekali memang kau harus melakukan ini dengan pasanganmu." Ujar Rame enteng.
"E, eh?"
"Hime-bakka! Dia itu perempuan! Jangan berkata yang tidak-tidak." Timpal Jui tidak setuju.
"Huuuu bukan yang di rumah Jui-Jui(?)! tapi yang kissu kissu!" balas Rame tidak mau kalah.
"A, anoo... A, aku pulang dulu….." pamit Sakura terburu-buru.
"Tapi benar juga sih kata Rame. Sekali saja kau harus mencoba mencium kekasihmu. Kau ini sudah SMA lho~" kata Jui sambil menjilat bibir bawahnya.
"A, AAA JUI-SAN MESUM IH! " komentar Sakura makin malu.
"Ahahaha sudahlah Jui, jangan goda dia terus. Sakura, tidak dicoba juga tidak apa-apa. tapi satu yang harus kau pegang teguh: ciumlah orang yang benar-benar Kau cinta dan mencintaimu!" Nasihat Rame tegas.
Sakura mengangguk setuju. Ia merasa Aoi pasti sudah lumutan di luar sana. Jadi ia segera berpamitan dengan Jui dan Rame dan segera keluar dari toko. Benar saja, ia mendapat jitakan maut dari Aoi karena membuatnya menunggu sampai ubanan.
"I, ittai!" rintih Sakura saat pipinya dicubit keras-keras oleh Aoi.
"Salahnya sendiri! Keluar-keluar sudah lama, mukamu memerah lagi! Memangnya ada apa?" tanya Aoi.
'Blush'
"Tuh merah lagi lho~" Goda Aoi.
"E, eh a, aku tidak melihat apapun kok!" balas Sakura menundukkan kepalanya.
"Lho~ apa aku bilang kalau kau habis melihat sesuatu?~ berarti kau baru saja melihat 'sesuatu' bukan?~" goda Aoi lagi sambil menoel pipi lumayan tembem Sakura.
"Ng, ngga!" elak Sakura memalingkan muka.
"Jangan bohong, Sa~Ku~Ra~" kata Aoi mengeja nama Sakura.
Diarihnya dagu gadis itu hingga Sakura bertemu pandang dengannya. Aoi menarik sudut bibirnya hingga memebntuk seringaian iblis ketika tahu ia telah dengan sukses membuat kouhai-nya ini gelagapan dan merona merah. Aoi mendekatkan kepalanya ke arah Sakura membuat gadis itu tidak tahan untuk tidak menutup matanya.
'OH EM JIIIII!' Pekik Sakura panik. Dalam hati tentunya.
"WEEE!" Seru Aoi mengagetkan Sakura lengkap dengan lidahnya yang menjulur jahil.
"E, Eh?"
"Kau pikir aku bakal apa bodoh?" tanya Aoi cuek.
Sakura terdiam. Segala perasaan berkecamuk dalam dadanya. Ia melirik kea rah toko. Motor Jui masih di sana. Berarti Rame juga masih ada. Jantung Sakura berdegup kencang. Wajahnya tidak ingin kembali ke warna asalnya. Tiba-tiba ekspresi Sakura berubah menjadi sedih dan marah.
Tes
"O, oi?" tanya Aoi panik saat mengetahui Sakura menangis.
"A- Gomen, aku mau kembali ke toko dulu. Ada yang tertinggal lagi." Pamit Sakura dengan suara bergetar.
Tanpa mendengar perkataan Aoi lagi, Sakura menerobos masuk ke dalam toko dan mendapati Jui dan Rame sudah mau pulang.
"S, Sakura-chan? Tidak jadi pulang?" tanya Rame kaget. Sakura menggeleng lemah.
Jui segera mengambilkan kursi yang tak jauh dari sana dan memberikannya pada Sakura. Rame sendiri berjongkok tepat di depan Sakura untuk melihat wajah Sakura lebih jelas.
"Ada apa? Ceritakan saja. Apa kau ada masalah dengan senpai itu? apa dia menyakitimu?" tanya Rame beruntun namun tidak meninggalkan kelembutan suaranya.
"Tidak…. Akulah yang menyakitinya. Tampa sadar aku sudah berlari menghindarinya… Aku tidak sanggup bertemu lagi dengannya…" tutur Sakura masih menangis.
"Ada apa sih? memangnya kenapa kau meninggalkannya?" kali ini Jui yang bicara.
"Aoi-senpai sedikit menggodaku tadi. Tapi.. Aku malah- Arrrrhhh!" Sakura terlihat frustasi dengan jawabannya.
"Hei hei! tenanglah dulu... Jui!" panggil Rame. Jui segera mendekat kea rah Rame. Rame terlihat membisikkan sesuatu ke telinga Jui.
"Aku mengerti." Ucap Jui. Kaki jenjangnya melangkah keluar.
"R, Rame? Mau kemana Jui-kun?" tanya Sakura takut.
"Beli rokok."
"Untuk?"
"Untuk anjingku." Ucap Rame datar.
"== kau tak pandai berbohong!" seru Sakura.
"Ahaha sudahlah! Nee, Sakura-chan. Apa kau menyukainya?"
"AHH? S, Siapa?" tanya Sakura gelagapan.
"Itu tuh, yang lagi berdiri di depan toko. Yang rambutnya hitam. Yang lagi menyapa Jui." Jawab Rame malas. Sakura malah terdiam dan menghela nafas. Matanya berubah sayu dan pandangannya sedih.
"Aku tidak tahu Rame-tan…" suara Sakura melirih.
"Apa yang kau rasakan saat bertemu dengannya? Sedih? Senang? Puas? Atau... Lega?"
"Lega.. Puas... Mungkin aku merasa seperti itu.. Lalu ada juga perasaan hangat sekaligus nyaman di sisinya. Dan terkadang ketika ia hilang dari pandanganku sedetik saja, rasanya.. Hampa, sedih.. Dan aku tidak pernah bisa berhenti untuk memikirkannya. Padahal aku juga sadar kalau kami baru saja bertemu mungkin beberapa jam yang lalu..."
Rame menyunggingkan seyuman yang sangat khas. Lembut dan menawan. Ia menepuk kepala Sakura pelan dan membisikkan beberapa kata pada Sakura. Mata dwiwarna Sakura membulat. Bibirnya mengatup rapat dan jemari lentiknya menutupi mulut kecilnya.
.
.
.
.
-outside-
"Jadi, sudah baikan Aoi-kun?" tanya Jui ramah.
"Yeah.. Terima kasih banyak Jui-san. Aku tak menyangka aku akan membuka mulut dan melomtarkan kata-kata itu." jawab Aoi sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan telanjangnya.
"Sama-sama Aoi-kun~ Tapi kalau kau berani menyakiti Sakura barang sedetik saja, KUFUFUFU 3"
.
.
.
'deg'
Aoi merinding dibuatnya. Jui ternyata memiliki senyum licik nan mengerikan seperti itu. Aoi hanya menanggapinya dengan tawa super garing. Tiba-tiba, Sakura dan Rame keluar dari toko. Aoi dan Jui yang tadinya duduk di bangku kompak berdiri menjemput ladies mereka. Ups, pengecualian untuk Rame~
"Sudah dapat apa yang tertinggal?" tanya Aoi canggung. Sakura tersenyum lebar.
"Sudah!" jawabnya riang. Aoi menepuk dahinya dan mengacak rambut Sakura.
"Aww! Untuk apa itu?"
"Membuatku panik beberapa saat yang lalu."
Rame dan Jui hanya tersenyum melihat keakraban keduanya. Mereka pamit pulang dan tinggalah kini Aoi dan Sakura. BERDUA. Jalanan sepi, hanya ada beberapa orang yang selesai beraktifitas pulang. Uap mengepul dari nafas keduanya. Mereka kembali tenggelam dalam kecanggungan. Wajah Sakura merona merah.
"Ah, wajahmu memerah!" seru Aoi menyadari perubaha warna wajah Sakura. Ia menepukkan kedua tangannya ke pipi tembem Sakura.
"Dingin!" pekik Sakura pelan.
"Ah! Sori!" Aoi cepat-cepat melepas kedua tangannya.
"Kau baik-baik saja? Apa kau kedinginan?" tanya Aoi khawatir.
"Dasar! Seharusnya yang perlu dikhawatirkan itu kau! Tanganmu dingin begitu!" sergah Sakura. Dengan cepat ia mengacak isi tasnya dan menemukan sepasang sarung tangan rajut buatan Shun.
"Pakai ini." ucap Sakura sambil menyerahkan sepasang sarung tangan cokelat. Aoi menerimanya dengan malu-malu dan memakainya.
"Ayo pulang, sudah malam." Ajak Aoi pelan.
Dan malam itu keduanya pulang ke apato mereka masing-masing. Malam itu juga Sakura terserang flu yang membuatnya harus absen keesokan paginya.
==TBC==
Tidak ada komentar:
Posting Komentar