Selasa, 13 Agustus 2013

Smile, Aoi-kun! ::the GazettE Fanfic:: [Chapter 7]

Disclaimer: PS Company, Under Records
Fandom [s]: the GazettE
Pairing [s]: AoixOC, and maybe some 'BL'
Warning: OOC (of course), typo [s], a little bit Boys Love. If you don't want that, please click 'back' button 'cause I don't want hear/see any FLAMES~ n_nv



Enjoy!

Previously on "Smile, Aoi-kun!"

"Kallen. Dia adalah orang yang akan bertunangan denganmu besok." Jelas pria itu.
Suara Aoi tercekat. Ia hanya menatap tidak percaya kepada Ayah dan wanita muda itu.

"J, jangan bercanda." Ucap Aoi pelan...



==x==

Gadis yang ada di depannya memiliki rambut cokelat panjang sepunggung, mirip seperti Sakura tetapi tetap saja berbeda. Matanya biru menandakan ia bukan orang Jepang. Tetapi wajahnya oriental, begitu khas wajah orang Asia. Aoi tidak mampu berkata-kata ia hanya diam ketika Shiroyama Masato menyuruhnya untuk duduk di hadapan wanita itu.

"Aoi, ia adalah Kallen Yunita Alexander. Keturunan Indonesia-Amerika. Ia adalah putri tunggal direktur perusahaan kue terkemuka di New York sekaligus salah satu model di agency Ayah." Jelas Masato.

"Halo." Ucap Kallen tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan yang dibalas hanya dengan tatapan dingin Aoi.

"Aoi, bersikaplah baik dengannya." peringat Masato tegas. Aoi dengan terpaksa menyambut uluran tangan Kallen.

"Bagaimana tuan Shiroyama? Apa kita bisa ke inti permasalahan kita?" tanya Kallen dengan senyum liciknya.

"Ah, Aoi, seperti yang tadi Ayah katakan. Kau akan bertunangan dengan Kallen besok."

"Jangan bercanda Tou-san. Akulah yang menentukan siapa yang akan menjadi istriku. Lagipula aku masih muda dan aku tidak ingin cepat-cepat menikah." Tutur Aoi cuek.

"Bukan hak-mu untuk berbicara seperti itu Aoi. Aku adalah Ayahmu. Dan kau harus menuruti apa mau Ayah."

"Bukah HAK-KU? Tou-san tahu apa? Tou-san tidak pernah mengurusku sejak Tou-san menggeluti bisnis ini! Tou-san tidak pernah pulang ke rumah, ke Jepang! Tou-san juga pasti tidak tahu betapa waktu itu Ibu dan Kazi sangat merindukanmu!"

"Jaga bicaramu Aoi! Ayah hanya terlalu sibuk!"

"TERLALU SIBUK? TERLALU SIBUK SAMPAI TOU-SAN MELUPAKAN ANAK-ANAK DAN ISTRI TOU-SAN SENDIRI!" amarah Aoi memuncak, tanpa sadar ia berteriak melupakan sejenak kehadiran Kallen.

"JAGA BICARAMU AOI!"

.

.

'PLAK!'

.

.

Masato memukul Anaknya sendiri dan membuat Aoi tercengang. Bukan karena sakit yang ia rasakan di pipinya, sakit hati ditinggal Sakura lebih parah dari ini. Tetapi karena tidak percaya bahwa Ayahnya sendiri akan menamparnya speerti ini. Aoi terdiam, mencerna semua perbuatan yang barusan dilakukan Ayahnya. Ayahnya sendiri.

"Tuan Masato, jangan terlalu keras dengannya." Komentar Kallen pura-pura khawatir.

"Tidak Kallen. Anak kurang ajar seperti dia ini harus dihukum." Balas Masato berang.

"..." Aoi hanya diam mendengar Ayahnya berbicara.

"Ayah tidak mau tahu soal kebahagiaanmu yang akan kau raih atau semacamnya. Kebahagiaan yang akan kau dapatkan Ayah yang menentukan." Ujar Masato.

'Keputusan final huh?' Batin Aoi.

"Aku- Akan kembali ke kamar." Pamit Aoi sambil berlalu. Sedangkan sang Ayah hanya diam membiarkan putra sulungnya pergi.

.

.

-Koridor-

.

.

Aoi berjalan santai menyusuri koridor itu sekali lagi. Terdengar derap kaki terburu-buru dari arah depannya. Dan ia dapat melihat sosok seorang perempuan muda yang sebaya dengan Sakura berlari kecil mendekatinya di susul Ibunya sendiri.

"Kazi-"

'bruk'

Kazi menubruk Aoi pelan dan mmebawa Kakak satu-satunya ke dalam pelukan.

"Aku merindukanmu." Ucap Kazi lirih. Aoi hanya tersenyum hangat dan mengelus pundak Kazi.

"Daijobu Kazi, aku sudah pulang." Balas Aoi.

"Kau baik-baik saja Yuu? Kaa-san tadi mendengar teriakanmu dan Ayah." Tanya Sayaka dengan kekhawatiran terpancar dari paras cantiknya.

"Aku baik-baik saja Kaa-san. Hanya sedikit.. Argumen." Jawab Aoi sambil memaksakkan senyum.

"Kazi, temani kakakmu dulu ya?" pinta sang Ibu.

"Iya." Balas Kazi sambil mengangguk bersemangat.

.

.

-Aoi's Room-

.

.

"Nii-chan, mau cerita sesuatu?" tawar Kazi sambil duduk manis di atas kasur Aoi.

"Boleh?" balas Aoi.

"Tentu saja! Sejak kapan kau dilarang bercerita padaku!" Aoi mendengus geli melihat kelakuan adiknya.

"Apa ada orang yang kau sukai Kazi? Pacar mungkin?" tanya Aoi sambil menatap dalam mata hazel adiknya.

'BLUSH!'

Seketika wajah Kazi memerah tanda bahwa apa yang dikatakan Aoi benar.

"Pacar huh?"

"I, iya."

"Anaknya baik? Teman sekelas?"

"Anaknya baik, manis dan pengertian. Bukan, dia satu ekskul denganku."

"Nah, boleh aku curhat?" Tanya Aoi yang dibalas dengan anggukan antusias Kazi.

"Aku memiliki orang yang kusayangi sendiri Kazi. Ia tinggal di Jepang. Aku tidak ingin bertunangan bahkan menikah dengan orang yang tidak kusayangi. Kau mengerti 'kan bagaimana perasaanya?"

"Iya. Sebenarnya sampai sekarang aku belum meberitahukan kepada Tou-san tentang anak itu. Aku hanya bisa bercerita pada Kaa-san karena Aoi-niichan ada di Jepang! Kalau aku boleh memilih aku ingin tinggal di Jepang bersam Aoi-niichan saja!" seru Kazi.

"Sst, hidup di Jepang itu sulit lho. lagipula kalau kau tinggal di Jepang nanti yang di New York kesepian dong?" balas Aoi jahil. Kazi hanya tersenyum malu-malu.

"Kazi, berapa umurmu?" tanya Aoi.

"Empat belas." Jawab Kazi.

"Umur perempuan yang kusukai adalah lima belas tahun. Sama dengan Kallen dan satu tahun di atasmu."

"PEDOFIL!" seru Kazi spontan.

'tok!' Aoi menjitak pelan kepala Kazi.

"I, ittai!" rintih Kazi.

"Aku bukan pedofil! Dia hanya berjarak satu tahun lebih muda dariku Kazi!" elak Aoi tidak terima.

"I, iya iya gomen!" balas Kazi.

"Nee, Kazi. Bagaimana perasaanmu ketika orang yang kau sukai menjauh karena kesalahnmu? Dan apa yang akan kau lakukan?" tanya Aoi serius.

"Aku.. Tentu saja frustasi dan sedih. Tapi.. Aku akan berusaha dan melakukan apapun yang aku bisa agar ia kembali ke pelukanku." Jawab Kazi sambil tersenyum lembut.

Mata Aoi terbelalak. Namun beberapa detik kemudian ia tersenyum hangat. Aoi menepuk pelan kepala Kazi.

"Yeah.. Thanks Kazi."

"Aku penasaran seperti apa cewek yang nii-chan sukai." Ujar Kazi.

"Namanya Sakura. Blasteran Jepang-Italia. Rambutnya cokelat. Tingginya sebahuku. Anaknya periang, lucu! Aku sangat senang menggodanya!" jawab Aoi bersemangat.

'Sudah lama aku tidak melihat nii-chan seperti ini. Aku yakin Sakura-nee pasti orang yang baik dan luar biasa. Dan kuharap 'Sakura' lebih baik dari perempuan bernama Kallen itu.' batin Kazi sambil tersenyum.

"Tapi Kazi, mata Sakura memiliki warna yang berbeda lho." ucap Aoi.

"Eh? Maksudnya?" tanya Kazi tidak percaya."

"Jadi dia mengalami musibah yang membuatnya harus menerima mata Gold milik kakak kembarnya." Jawab Aoi.

"Wow, warna matanya berbeda begitu?"

"Iya. Hijau emerald dan Gold. Hal itulah yang membuatnya dibenci dan dipandang sebelah mata oleh beberapa murid lain. Dia... Bahkan tidak memiliki teman." Kazi menatap kakak laki-lakinya itu. ia tersenyum dan menepuk pelan bahu Aoi.

"Aku yakin Sakura yang kau maksud adalah orang yang luar biasa hingga membuatmu seperti ini." Komentar Kazi.

"Yeah.. She is."

"..."

"Hey Kazi." Panggil Aoi lagi.

"Ya?"

"Apa kau setuju kalau aku menikah atau minimal bertunangan dengan Kallen?" tanya Aoi. Kali ini pandangannya terlihat sangat keberatan. Kazi menggeleng kuat-kuat menunjukkan ia sangat tidak setuju.

"Aku tidak mau! Kallen jahat padaku! Tou-san tidak percaya padaku bahwa Kallen hanya ingin uang Tou-san!" seru Kazi. Aoi tersentak dan meraih pipi adiknya.

"A, apa itu benar?" tanya Aoi tidak percaya. Kazi mengangguk yakin.

"Aku mendengar Kallen-san berbicara pada seseorang di telepon beberapa hari yang lalu. Ia bilang kalau ia ingin mengambil alih agency kita setelah ia menikah dengan nii-chan. Aku sudah mengatakan hal ini pada Kaa-san. Kaa-san berkata akan menyelidikinya. Tetapi Tou-san malah memarahiku dan berkata aku ini bodoh mengatakan hal seperti itu.." tutur Kazi dengan wajah murung.

"Kazi! Apa Kallen menyakitmu?" tanya Aoi dingin. Kazi membeku seketika. Pupil matanya menegcilmengindikasikan bahwa telah terjadi sesuatu pada gadis itu.

"KAZI!" panggil Aoi setelah tak mendapatkan jawaban apapun dari Kazi. Kazi membuka mulut.

"T, tempo hari Kallen menjatuhkan gelas hingga pecah. Kemudian ia membersihkan pecahannya dan memberikannya padaku. Aku tidak tahu kalau plastic yang menampung pecahan gelas itu sobek dan tanganku sobek terkena pecahannya. Kallen malah berkata 'Jangan halangi aku ya, Kazi-chan.'" Kata Kazi dengan nada ketakutan.

"Lalu?..."

"D, dia mengancam untuk tidak memberitahukan hal ini pada Kaa-san, Tou-san, atau padamu. Kalau aku melakukannya, entah apa yang akan dia perbuat lagi padaku..." Ucap Kazi sambil mulai menangis.

Aoi meraih pergelangan Kazi dan memperhatikan kedua tangan adiknya. Benar, memang ada bekas luka sobek di telapak tangan Kazi. Aoi mendecih kesal dan membawa adiknya kedalam dekapan hangat.

"Maafkan aku Kazi…" Ucapnya lirih. Kazi menggeleng pelan.

"I, ini bukan salah nii-chan kok!" hibur Kazi.

Setelah itu Aoi membawa Kazi ke kamarnya dan berpesan pada beberapa maid untuk menjaga kamar Kazi agar tidak dimasuki oleh Kallen. Aoi kembali ke kamarnya dan mendapati gadis itu sudah ada di depan kamarnya, berdiri dengan parasnya yang cantik.

"Apa urusanmu?" tanya Aoi ketus.

"Well, jangan ketus begitu Aoi-kun. Aku hanya ingin menyapamu kok." Jawab Kallen enteng.

"Cih. Katakan saja apa maumu. Kalau kau menginginkan harta, kau datang pada orang yang salah Kallen. Kau tidak perlu menyakiti Kazi hanya karena dia akan menjadi penghalangmu. Kazi tidak ada hubungannya dengan ini."

"Wah, wah rupanya mulut Kazi sudah bocor ya? Baiklah Aoi-chan. Aku ingin kau menerimaku sebagai istrimu. Dan aku tidak ingin kau menolak pertunangan kita besok. It's simple right?"

"Dan kalau aku tidak melakukannya?" tanya Aoi sambil menaikan alisnya.

"Aku akan menyakiti Kazi dan melakukan hal yang lebih kejam daripada menyobek kulitnya dengan pecahan gelas." Jawab Kallen seolah tidak ada beban.

Kallen pergi dari hadapan Aoi, meninggalkan pemuda itu dengan senyum puas. Aoi membanting pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam. Ia merebahkan dirinya di atas kasur dan meraih handphone-nya.

Terbesit satu nama yang sangat ingin ia hubungi. Tetapi ia tidak mampu berkata apapun jika harus bertemu atau bertelepon dengan gadis itu. gadis yang sudah mencuri perhatiannya. Maka ia memutuskan untuk menelpon seseorang yang setidaknya dekat dengan gadis itu. ia tak peduli apakah tagihan telepon bulanannya bakal melonjak.

'tuutt tuuuutt'

.

.

.

'Trek!'

"Halo?"

"Kai, aku ingin bicara denganmu..."


==TBC==



Tidak ada komentar:

Posting Komentar