Title: Love & Truth
Author: Akihito Kouyoshima
Disclaimer: PSco (ex. Miyavi), under code, but OC, story and setting is mine and BlacKaitani_Rosary
Warning: OOC, Shonen-ai
Chapter: 2 –My Lovely Idol!-
Pairing: Aoi x Uruha (the GazettE)
Just for fun, don't be mad~ Just a fiction not the reality~
~O*~O*~O*~O*~
I will walk together to future not promised to yet
It keeps walking together to the future which you are...
It keeps walking together to the future which you are...
Sang vokalis pirang dan chubby menyelesaikan lirik lagu terkahirnya. Keempat anggota band itu turun dari panggung dengan keringat berucucuran. Di depan panggung seorang pemuda lain berparas cantik dengan rambut pirang terpaku sesaat. Ia mengagumi 'Aoi' sejak band-nya debut. Mata cokelat miliknya menangkap sosok Aoi yang tertawa bersama teman-temannya. Ia ingin tahu siapa sebenarnya Aoi itu..
.
.
~O*~O*~O*~O*~
.
.
Uruha Takashima, seorang siswa SMA Peace Smile. Ia berjalan riang menuju sekolahnya dengan headset tergantung di kedua telinga ber-piercing'nya. Uruha tersenyum sumingrah saat iPod-nya memutar lagu itu, lagu yang dimainkan oleh the GazettE.
I will walk together to future not promised to yet
It keeps walking together to the future which you are..
It keeps walking together to the future which you are..
.
.
.
.
.
"Yo Uru!" Sapa Ryouga hangat.
"Pagi- EHH? Kalian pacaran?" tanya Uruha kaget melihat Ryouga merengkuh pinggang Reno.
"I, iya." Jawab Reno dengan wajah memerah padam.
"Tadi pagi aku menyatakan perasaanku padanya. Lalu dia menerimaku." Jelas Ryouga senang.
"WAH~ Selamat ya ^^ semoga langgeng!" seru Uruha senang.
Bel telah berbunyi nyaring. Saat Miyavi-sensei datang, di belakangnya mengeekor seorang siswa kelas 2-3 berambut hitam acak-acakan.
"SHIROYAMA!" marah Meev saat mengetahui dirinya tidak sendirian memasuki kelas itu.
"E, ya sensei?" balas 'Shiroyama' inosen.
"Berdiri di lorong sana!" perintah Meev.
Shiroyama Yuu, adalah salah satu siswa yang cukup bermasalah di SMA PS. Ia adalah pemilik point pelanggaran tertinggi se-SMA. Entah apapun aktivitas luar sekolahnya, tiap minggu ia akan selalu membolos. Entah dua kali atau tiga kali. Masuk sekolah pun ia akan datang terlambat atau mepet seperti hari ini. Banyak siswa yang bilang ia bisa naik kelas hanya karena faktor keberuntungan.
Sejak kelas satu, Uruha selalu menjadi sasaran kejahilan Shiroyama. Entah menyembunyikan bekal atau mencoret-coret tangan pemuda cantik itu. Karena Uruha cukup tidak peka, ia hanya mengira Shiroyama hanya mempermainkannya. Tapi menurut Reno yang peka, Shiroyama mencari perhatian.
"Huh rasain." Ejek Uruha pelan.
"Ehem, Takashima! Jangan mengobrol saat pelajaran! Berdiri di lorong sana!" Perintah Miyavi.
"E, eee? B, baiklah.." balas Uruha menuruti apa kata sensei-nya itu.
.
.
-lorong-
.
.
"Wah wah, anak teladan juga bisa disetrap ya?" ejek Shiroyama.
"Diam kau gurame. Ini semua gara-gara kamu juga." Balas Uruha kesal.
"Gara-gara aku? Apa salahku memang?"
"Pokoknya gara-gara kamu!" seru Uruha menjulurkan lidah.
"Apaan sih, paha."
"Namaku Uruha! U-RU-HA! Bukan PAHA!"
"Pokoknya paha ya paha!"
"YUU SHIROYAMA! URUHA TAKASHIMA! Kalian benar-benar tidak bisa diam! Sana menghadap wali kelas kalian!" perintah Miyavi kesal.
'Meev kalo ngamuk serem.' Batin keduanya bersama.
Akhirnya demi menenangkan 'kuda ngamuk' *dibunuh Meev*, Uruha dan Shiroyama pergi keruang yang mulia Hizaki, wali kelas sedang duduk tenang di ruang wakil kepala sekolah. Ia menegakkan tubuhnya saat melihat dua anak didiknya memasuki ruang itu.
"Lho, Takashima? Ada apa?" tanya Hizaki heran.
"Yahhh Sensei ih! Masa cuma Pa- Eh, Uruha yang ditanyain?~ =3=" protes Shiroyama tidak terima.
"Soalnya Shiroyama sudah kebanyakan menghadap Hizaki-sensei." Jawab Uruha ringan.
"Tuh Takashima sudah menjawab. Sensei sampai bosan denganmu. Hampir tiap hari bertemu." Timpal Hizaki. Alhasil Shiroyama ngambek.
"Siwak siwak siwak! (ngambek ngambek ngambek!)" seru Shiroyama.
"Ahahaha sudahlah, ayo duduk dulu~ ceritakan kenapa kalian sampai disuruh menghadap sensei."
Perintah Hizaki tegas membuat keduanya duduk di kursi yang terletak tepat di depan meja kerja Hizaki.
Uruha mulai bercerita kenapa dia bisa sampai disetrap di luar. Begitu juga dengan Shiroyama. Cerita mereka diselingi dengan candaan dari Hizaki-sensei dan terkadang juga ada agrumen kecil oleh Uruha dan Shiroyama.
Tak terasa pelajaran Miyavi-sensei sudah selesai. Keduanya kembali ke kelas dan pamit pada Hizaki. Hizaki memang seorang wali kelas yang baik untuk di ajak bicara. Senakal apapun Shiroyama di depan HIzaki ia akan menjadi anak baik dan penurut.
Pelajaran setelah Miyavi adalah pelajaran musik. Pelajaran yang paling di sukai Uruha dan Shiroyama. Pengajarnya adalah Kamijo dan Teru. Semua siswa kelas 2-3 segera bersiap menuju ruang musik yang cukup jauh. Karena Shiroyama dan Uruha datang terlambat, terpaksa mereka ditinggal oleh semua anak.
"Uh, Reno jahat! Aku ditinggal!" rutuk Uruha sambil mengeluarkan buku.
"Jangan banyak mengeluh paha! Kau tidak sendirian. Lihat? masih ada aku!" Ucap Shiroyama menepuk kepala Uruha dengan buku.
.
.
.
-Skip-
.
.
.
Langit yang tadinya mendung telah memutuskan untuk menurunkan titik-titik air yang membasahi permukaan bumi. Di depan sekolah, berdirilah seorang pemuda cantik yang tengah menggerutu pelan.
"Ah! Bagaimana aku bisa pulang tepat waktu kalau begini caranya?" sesalnya.
Meski Uruha tinggal sendirian ia tetap ingin pulang secepatnya agar bisa beristirahat dengan tenang. Ia menyesal karena tidak sempat membawa payung. Alhasil ia harus menunggu sampai hujan berhenti dan itu akan memakan waktu yang cukup lama.
Uruha yang sedang bad mood mengambil iPod-nya dan menyetel lagu the GazettE. Ia mengambil tempat di salah satu bangku dan duduk dengan tenang menunggu berhentinya hujan. Uruha memejamkan matanya dan menikmati alunan musik yang dimainkan the GazettE. Lagi-lagi lagu itu. Cassis. Lagu dimana Aoi memetikkan gitarnya dengan indah.
Namun sebuah suara gitar yang lain masuk ke dalam telinganya. Uruha mematikan iPod-nya dan mulai mencari sumber suara itu. Ia meninggalkan tasnya dan berlari menembus hujan.
'Kenapa?'
'Kenapa petikan gitar ini begitu mirip dengan permainannya?' batin Uruha.
Ia terus berlari mencari sumber itu. Akhirnya bagian solo dari lagu cassis dimainkan oleh orang itu. Uruha merasa ia sudah dekat. Ia memeprcepat langkahnya dan menemukan sosok itu. seorang pemuda berambut hitam yang duduk di bawah ayunan di halaman belakang sekolah. Kakinya dilipat hingga tidak menyentuh tanah. Di pangkuannya ada sebuah gitar akustik warna hitam dengan aksen putih. Pemuda itu tidak tampak kebasahan oleh hujan karena atap ayunan itu melindunginya.
"Aoi..." Tanpa sadar Uruha memanggil pemuda itu dengan sebutan 'Aoi'.
"Ng?... U, Uruha?" Panggil pemuda itu. Uruha tersentak kaget dan mendapati bahwa orang yang ada di depannya bukanlah Aoi melainkan Shiroyama Yuu.
"S, Shiroyama!" balas Uruha dengan wajah memerah.
"Apa yang kau lakukan sih?" sergah Shiroyama meletakkan gitar-nya begitu saja. Ia melepas jaketnya dan memeberikannya pada Uruha agar pemuda itu tidak kedinginan.
"Kau bisa sakit! Sana masuk ke dalam! Aku akan menyusul!" perintah Shiroyama gemas.
Entah kenapa Uruha menuruti perintah itu ia berlari ke dalam sekolah. Shiroyama mengikutinya hingga mereka berada di tempat yang sama.
"Yah, gitarku basah deh." Komentar Shiroyama sambil mengelap gitarnya dengan sapu tangan.
"M, maaf.." balas Uruha lirih. Shiroyama menengok dan menatap pemuda itu.
"Ngapain sih lari-lari di tengah hujan begitu? Kau bisa sakit tahu." Marah Shiroyama.
"I, iya.. Ma-"
Tiba-tiba tubuh Uruha limbung ke depan dan jatuh dalam dekapan Shiroyama. Shiroyama yang kaget reflek menangkap tubuh itu dan menggendongnya.
Uru's POV
Aku merasakan tubuhku melayang tak menyentuh tanah. Tangan siapa ini?... Aroma ini…. Aku kenal betul dengan Aroma ini.. Aroma Aoi the GazettE.. Aku tahu.. saat itu akulah yang berada paling dekat dengannya.. Aoi.. Apakah.. Kamu- memang Aoi?..
End of Uruha's POV
Shiroyama membawa Uruha ke mobilnya. Ia segera memacu mobilnya melewati pertokoan. Ia tidak tahu dimana Uruha tinggal jadi ia membawanya ke apartment-nya sendiri. Shiroyama memang tinggal sendirian. Meski begitu ia masih dibiayai oleh orangtua-nya yang tinggal di luar negri. Sesampainya di apartment itu, satpam setia Shiroyama menyapanya dan sedikit kaget dengan keadaan Shiroyama yang bahas kuyub ditambah dengan Uruha yang dibawanya di punggung.
.
.
.
-Aoi's Room-
.
.
.
Suhu tubuh Uruha meningkat sepertinya ia demam. Beberapa kali ia mengigau nama yang sama.
"A, Aoi.."
Shiroyama menengok pada pemuda itu. Ia beranjak dari sofa kecil di dalam kamarnya dan beralih ke Uruha yang terbaring lemah. Mengecup kening Uruha dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tidak dapat dipungkiri bahwa sejak bertemu dengan Uruha enam bulan yang lalu ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Uruha yang ceria, Uruha yang lembut dan baik hati.
~O*~O*~O*~O*~
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Uruha bangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya sebentar dan akhirnya menyadari bahwa ini bukan di rumahnya. Ia mulai panik dan gelisah. Ia mencari siapapun yang ada di rumah ini. Ia bangkit berdiri dari tempat tidur. Namun sesaat keseimbangannya menurun dan ia jatuh ke lantai.
"Hei! Kau ini masih lemah! jangan berdiri-berdiri!" seru sebuah suara yang sangat ia kenal.
"S, Shiroyama-kun?" pekik Uruha saat menyadari Shiroyama menopang tubuhnya hingga tidak jadi menyentuh lantai berkarpet abu-abu.
"Tidurlah dulu Uruha."
"Ini dimana?" tanya Uruha linglung.
"Ini di apartemen-ku. Tadi setelah kau pingsan aku membawamu kemari karena tidak tahu rumahmu. Maaf, aku menggantikan bajumu tadi." Jelas Shiroyama diikuti blushing berat.
'damn, he is hot.' Umpat Shiroyama.
"UAPAAAA? Shiro mesum!" seru Uruha sambil melempar bantal sekeras-kerasnya.
"A, aww! Maaf Uru! Aku tidak mau kau sakit bodoh!" balas Shiroyama.
Uruha berhenti melempar bantal-bantal yang ada di sekitarnya dan terdiam. Shiroyama? Orang yang selalu jahil dan dibencinya itu tidak ingin dia sakit?
"Apa kau mengigau Shiro?" tanya Uruha tidak yakin.
"T, tentu saja aku sadar! Sudahlah, lupakan!" Jawab Shiroyama malu.
Uruha merasakan wajahnya memanas. Entah mengapa ia merasakan perasaan aneh ini. perasaan bahagia ketika tahu Shiroyama mengkhawatirkannya.
"Ah, di luar masih badai. Menurut ramalan cuaca tidak akan reda sampai malam. Bagaimana?" tanya Shiroyama memecah keheningan.
"..." Uruha tidak menjawab malah melamun.
"Uruha!" panggil Shiroyama.
"E,eh maaf! Apanya yang bagaimana?"
"Fuh! Bagaimana , kau mau menginap di sini?" tanya Shiroyama dengan wajah benar-benar memerah.
"A, ah apa boleh buat.. Baiklah aku akan menginap."
Akhirnya malam itu Uruha terpaksa menginap dan benar saja badai tidak reda meski malam sudah sangat larut.
-00.20-
Uruha meringkuk di atas tempat tidur sambil menutupi telinganya. Ia sangat takut dengan badai apalagi dengan petir.
.
.
DHUAARR!
.
.
"WUAAA!" Uruha berteriak kencang saat petir menampakkan kilatanya.
Shiroyama berlari menuju kamarnya dan mendapati Uruha sudah meringkuk ketakutan di bawah selimut. Ia menarik selimut itu dan duduk di sisi Uruha.
"J, jangan lihat aku!" seru Uruha.
"K, kenapa sih?" tanya Shiroyama bingung.
"A, aku takut dengan petir! Jangan lihat aku! Aku menjijikan!" jawab Uruha setengah berteriak.
Shiroyama tidak mengindahkan perkataan Uruha. Ia mendirukan dirinya dan memeluk erat pinggang Uruha dari belakang. Shiroyama tidak peduli dengan penolakan Uruha ia malah semakin mengencangkan pelukannya saat mendengar isakan Uruha.
"Aku tidak menganggapmu menjijikan kok. Aku juga dulu takut dengan petir. Laki-laki juga manusia, bisa merasakan takut." Ujar Shiroyama lembut.
Uruha berhenti terisak. Entah kenapa meski petir menyambar, ia tidak takut sama sekali. Ia bingung. Mungkinkah ia jatuh cinta pada Shiroyama? Kenapa orang ini begitu mirip dengan Aoi?
"Hei, siapa itu Aoi?" Tanya Shiroyama membuat Uruha dapat merasakan nafas hangat pemuda itu menerpa leher jenjangnya.
"Aoi itu.. Nama personil band.." Jawab Uruha malu-malu
'Hm, apa dugaanku benar?'
"Band?"
"Iya. the GazettE. Dia adalah gitaris.. dan.. Kurasa dia mirip denganmu.." kata Uruha pelan.
"Ngefans dong kamu sama dia?" tanya Shiroyama sambil mengeratkan pelukannya pada Uruha.
"E, eh aku bukan hanya menyukai.. Aku... Jatuh cinta padanya." Aku Uruha malu.
"Apa kau tahu, Aoi lahir tanggal 20 Maret?"
"Ya aku tahu."
"Apa kau tahu kalau aku tahu semua tentang Aoi?" tanya Shiroyama lembut.
Uruha membalikan badannya tidak percaya. Ia menatap dalam-dalam mata Shiroyama. Ia tidak melihat satu pun kebohongan di dalam mata itu.
"Maksudmu?"
"Nama asli Ruki adalah Takanori Matsumoto, benar kan?" ucap Shiroyama membuat Uruha semakin penasaran.
"Y, ya."
"Nama asli si bassist, Reita adalah Suzuki Akira. Lalu nama asli si drummer Kai adalah Yutaka Uke."
"C,cukup Shiroyama apa maksudmu sebenarnya?" tanya Uruha.
"Aku belum puas Uru ^^~ Aoi, si gitaris tidak punya makanan yang tidak dia sukai, Aoi juga pandai dalam renang dan surfing *kenyataan XD*. Apa semua yang kuucapkan ini benar?"
"Iyaaaaa Shirooo! Semua itu benaar apa intinya sih?" Uruha benar-benar gemas sekarang.
"Pertanyaan terakhir. Uruha, nama asli Aoi apa?" tanya Shiroyama.
"Ti, tidak tahu. Aoi tidak pernah memberitahu nama aslinya.."
"Shiroyama Yuu." Ungkap Shiroyama.
"HAH?"
"Nama asli Aoi ada Shiroyama Yuu, Uruha. Aoi adalah aku. Aku adalah si gitaris the GazettE, Aoi!" Aku Shiroyama sambil menempelkan keningnya di kening Uruha.
"J, jangan mempermainkanku Shiroyama!" pekik Uruha tidak percaya.
"Percayalah Uruha. Apa yang harus kulakukan supaya kau percaya padaku?" tanya Shiroyama serius.
"M, mainkanlah lagu Cassis. Dengan sempurna." Perintah Uruha setelah terdiam cukup lama.
Shiroyama beranjak dari kasur dan mengambil gitar hitamnya. Dimainkannya nada demi nada dengan sempurna hanya untuk membuat Uruha percaya. Mata Uruha terbuka lebar. Ia tahu sosok itu. Ia tahu yang tengah memainkan gitar itu adalah Aoi, sang gitaris the GazettE! Uruha memeluk leher Shiroyama dan menenggelamkan wajahnya di perbatasan leher Shiroyama.
"Apa sekarang kau mengerti Uruha?" tanya Shiroyama lembut. Uruha mengangguk pelan.
"Ada yang ingin kukatakan pada-"
"Aku mencintaimu Uruha.. Sejak enam bulan lalu kita bertemu di kelas yang sama, aku tak menyangka kau adalah fans-ku.. Aku sangat bahagia kau ada di depan panggung menatapku dengan lekat." Potong Shiroyama. Uruha terdiam mematung.
"Uruha Takashima. Maukah kau.. Menjadi kekasihku?" lanjut Shiroyama dengan pandangan gentle.
"A, aku mau.. Aoi-kun." jawab Uruha pelan.
Shiroyama meletakkan gitarnya begitu saja dan merengkuh pemuda cantik di depannya. Ia menciumi wajah Uruha dengan penuh kasih sayang. Meski masih terasa demam Uruha, tidak akan membuat mereka berhenti mengekspresikan cinta masing-masing..
OWARI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar